Secercah Cahaya Ilmu dalam Kegelapan

Tua, muda, miskin, kaya, ataupun orang dengan kebutuhan khusus tentunya sangat memerlukan ilmu atau pengetahuan untuk mempermudah hidupnya. Tanpa ilmu, hidup bagai dalam kegelapan. Ilmu ibarat secercah cahaya yang menerangi kekelaman ketidaktahuan. Definisi ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[1]

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.[2]

Tentu saja ilmu tak hanya melulu tentang teori atau bidang ilmu tertentu. Ilmu mempunyai cakupan yang luas. Ada yang bersifat eksak dan abstrak. Pengalaman dan kejadian sehari-hari, peristiwa alam, dan kehidupan ini sebenarnya adalah ilmu yang sebagian masih merupakan misteri Ilahi.

Sejak masih usia muda, anak-anak sudah dibekali dengan pendidikan formal yang dimuat dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan di Indonesia menerapkan Wajib Belajar 12 tahun (SD, SMP, SMA) yang terus berjenjang sesuai dengan tingkatannya. Saat ini kita kenal istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sistem KBK mengharapkan siswa bertindak aktif dan guru hanya memberikan umpan (feed back). Guru lebih bertindak sebagai pengarah atau fasilitator. Namun dalam implementasinya tetap saja siswa sudah diarahkan kepada hal-hal yang bersifat “mutlak”, misalnya untuk menjawab soal Matematika harus dengan rumus yang hapal mati diajarkan guru (padahal ada banyak cara/solusi lain untuk menjawabnya). Di luar kunci jawaban atau jawaban guru, jawaban siswa akan dianggap salah. Kebanyakan saat ini kurikulum di beberapa sekolah lebih bersifat teori/saklek/hapal mati sehingga murid menjadi kurang kreatif dan tidak berimprovisasi.

Pada akhirnya kompetensi siswa akan diuji dengan Ujian Akhir Nasional (UAN). Tak dapat dipungkiri, UAN sering menjadi momok bagi para siswa. Perjuangan selama bertahun-tahun dipertaruhkan dalam UAN beberapa hari. Apabila tidak berhasil mencapai nilai standar, maka  siswa dinyatakan tidak lulus. Selain harus berkorban waktu, tenaga serta materi juga harus dikeluarkan untuk mengulang lagi.

Di beberapa negara maju, siswa sejak masih di elementary school sudah diarahkan sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Mereka tidak saklek harus mengikuti seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah, tetapi diizinkan untuk memilih mata pelajaran yang mereka sukai sesuai bakat mereka. Hal ini cukup baik karena siswa sudah menyadari apa yang mereka inginkan dan menjalani tujuan/cita-cita dengan terarah.

Ilmu dan pengetahuan tak hanya dapat diperoleh dari pendidikan formal (sekolah), tetapi bisa melalui pendidikan non-formal. Kursus, les, lokakarya, seminar, training, booth camp, bahkan outbound dapat melatih kreativitas, keahlian, dan keterampilan pesertanya. Tak cukup hanya kecerdasan intelegensia (IQ) bagi manusia, namun harus didukung juga dengan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Semuanya harus seimbang, dan cara untuk melatihnya pun berbeda. Akan lebih baik jika ketiga kecerdasan itu dapat dipelajari secara bersamaan.

Belajar adalah salah satu proses untuk mendapatkan pemahaman akan ilmu. Dalam proses belajar tentunya ada yang bertindak sebagai narasumber atau pemberi informasi. Kita mengenalnya sebagai guru, dosen, instruktur, pengajar, atau pendidik. Mendidik memiliki makna berbagi informasi dan memberi pemahaman atas ilmu pengetahuan. Pendidik belum tentu lebih pintar dari anak didik. Hanya saja, mungkin pendidik tau sedikit lebih banyak atau juga tahu lebih dahulu daripada anak didik. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara pendidik dan peserta didik.

Berdasarkan pengalaman saya saat menjadi Asisten Dosen dan Instruktur Praktikum, proses belajar yang efektif adalah adanya tatap muka serta feed back dari peserta kepada pengajar dan sebaliknya. Diskusi dan tanya jawab yang interaktif dan atraktif lebih mudah dipahami, cepat diingat, dan tak mudah dilupakan. Sebagai pengajar juga harus memahami situasi kelas dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Penyampaian yang komunikatif dan jelas juga merupakan poin penting agar materi yang disampaikan tepat sasaran. Agar peserta tidak bosan perlu adanya dukungan tampilan visual dan audio yang menarik dan sesuai sehingga suasana tidak membosankan. Hal yang disampaikan juga tidak selalu tentang teori tetapi lebih kepada penerapan/praktik (aplikatif).

Beberapa hal kecil pernah saya terapkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Misalnya saja menampilkan cuplikan film yang berhubungan dengan pokok bahasan, menyertakan gambar animasi yang sesuai dengan materi, mengajak belajar di luar kelas, dan melakukan praktik wirausaha dengan membuka usaha sendiri. Atau kami memilih beberapa buku inspiratif dan membedahnya bersama-sama. Laskar Pelangi dan Man Jadda Wa Jadda  adalah sebagian buku yang inspiratif dan memotivasi. Itu beberapa hal kecil yang efeknya cukup besar bagi saya. Mahasiswa menjadi lebih aktif dan berani menyampaikan pendapatnya.

Saya tertarik dengan Konsep “Indonesia Mengajar” dari Pak Anies Baswedan serta “Kick Andy” dari Andy. F. Noya. Menurut saya, cara mereka menyampaikan suatu nilai dan ilmu itu sangat mendidik, mencerdaskan, dan menginspirasi. Tak hanya membahas prestasi, namun juga bagaimana perjuangan dan motivasi serta kreativitas dimunculkan. Bukan hanya dari sisi teoris tapi juga humanis yang menyentuh nilai-nilai kehidupan.

Saat ini kita sudah dipermudah dengan berbagai informasi yang mudah diperoleh. Dukungan internet, media massa, dan media sosial sangat deras. Aksesnya bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tentu bagus jika kita bisa mempelajari banyak hal dari browsing atau berselancar di dunia maya. Namun efek negatif tentu ada. Segala yang praktis seringkali memunculkan kemalasan dan penyalahgunaan. Copy paste alias plagiarisme membanjir di mana-mana.

Sebagai generasi penerus, tentu kita tak boleh lengah. Never ending learning. Belajar terus dilakukan sampai akhir hayat. Jangan menyerah untuk meraih ilmu walau banyak keterbatasan dan rintangan. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang cerdas pikiran, emosi, dan spiritual.

 

[1] Dikutip dari http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmu

[2] Dikutip dari http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmu

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s